Konseling → Beda Psikoterapi dan Konseling
A.
Definisi
Psikoterapi dan Konseling
1.
Definisi
Psikoterapi
Psikoterapi
adalah usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan
dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu
"Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy"
yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu,
psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau
terapi pikiran.
Psikoterapi
adalah proses difokuskan untuk membantu Anda menyembuhkan dan konstruktif
belajar lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam
kehidupan Anda. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan
melalui periode yang sulit atau stres meningkat, seperti memulai karier baru
atau akan mengalami perceraian (hariyanto, 2010).
Menurut Corsini
(1989), psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak,
setiap pihak biasanya terdiri dari satu oran, tetapi ada kemungkinan terdiri
dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan
yyang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak
karena ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang
berikut: fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir), fungsi afektif
(penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku
(ketidaktepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal-usul
kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan
beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui
resmi untuk bertindak sebagai terapis.
Menurut Ivey
& Simek-Downing (1980), psikoterapi adalah proses jangka panjang,
berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih
besar pada struktur kepribadian.
2.
Definisi
Konseling
Menurut
Schertzer dan Stone (1980), konseling adalah upaya membantu individu melalui
proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli
mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan
tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan
efektif perilakunya.
Menurut Jones
(1951), konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua
pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh
yang bersangkutan. Dimana ia diberi panduan pribadi dan langsung dalam
pemecahan untuk lkien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang
progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa
bantuan.
Menurut Prayitno
dan Erman Amti (2004:105), konseling adalah proses pemberian bantuan yang
dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor)
kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang
bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Menurut
A.C. English dalam Shertzer & Stone (1974), konseling merupakan proses
dalam mana konselor membantu konseli (klien) membuat interprestasi tentang
fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan, rencana, atau
penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya.
Menurut APGA
(American Personel Guidance Association) dalam Prayitno (1987:25), konseling
adalah hubungan antara seorang individu yang memerlukan bantuan untuk mengatasi
kecemasannya yang masih bersifat normal atau konflik atau masalah pengambilan
keputusan.
Menurut
Galdding, konseling berlangsung dalam jangka waktu yang relative
singkat,bersifat antar pribadi, sesuai dengan teori-teori yang ada, dilakukan
oleh orang yang ahli di bidangnya serta sesuai dengan etika dan aturan-aturan
yang ada yang berpusat pada pemberian bantuan kepada orang-orang yang pada
dasarnya mengalami gangguan psikologis agar orang-orang yang menyimpang dan
mengalami masalah situsional dapat kembali normal.
B.
Perbedaan
Psikoterapi dan Konseling
Menurut Mappiare (dalam Hartosujono, 2004) ada sejumlah perbedaan
psikoterapi dan konseling dikemukakan sebagai berikut:
1. Konseling
merupakan bagian dari psikoterapi. Psikoterapi merupakan bagian yang lebih luas
dari pada konseling.
2. Konseling
lebih mengarah pada penyebab atau awal masalah. Selanjutnya konseling lebih mengarah
pada pengembangan-pendidikan-pencegahan. Berbeda dengan psikoterapi yang mengarah
penyembuhan-penyesuaian-penyembuhan.
3. Dasar
konseling adalah filsafat manusia. Dasar dari psikoterapi adalah perbedaan
individual dengan dasar-dasar psikologi kepribadian dan psikopatologi. Pada
perkembangan selanjutnya konseling juga memanfaatkan perkembangan teori-teori
kepribadian dalam konteks ilmu perilaku.
4. Dijelaskan
oleh Narayana Rao (dalam Hartosujono, 2004) bahwa tujuan antara konseling dan
psikoterapi sama, namun keduanya berbeda dalam proses pencapaiannya.
Psikoterapi mencapainya dengan cara ‘pembedahan’ psikis dan pembedahan otak.
Proses konseling lebih mengarah pada identifikasi dan kekuatan-kekuatan positif
yang dimiliki klien, agar klien lebih maksimal dalam kehidupannya.
Adapun perbedaan konseling dan psikoterapi didefinisikan oleh
Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph
(1983), sebagai berikut:
KONSELING
|
PSIKOTERAPI
|
1.
Klien
|
1.
Pasien
|
2.
Gangguan yang
kurang serius
|
2.
Gangguan yang
serius
|
3.
Masalah:
Jabatan, Pendidikan, dsb
|
3.
Masalah
kepribadian dan pengambilan keputusan
|
4.
Berhubungan
dengan pencegahan
|
4.
Berhubungan
dengan penyembuhan
|
5.
Lingkungan
pendidikan dan non medis
|
5.
Lingkungan
medis
|
6.
Berhubungan
dengan kesadaran
|
6.
Berhubungan
dengan ketidaksadaran
|
7.
Metode
pendidikan
|
7.
Metode
penyembuhan
|
C.
Tujuan
Psikoterapi dan Konseling
Konseling dan Psikoterapi merupakan suatu usaha profesional untuk
membantu/memberikan layanan pada individu-individu mengenai permasalahan yang
bersifat psikologis. Dengan kata lain Konseling dan Psikoterapi bertujuan
memberikan bantuan kepada klien untuk suatu perubahan tingkah (behavioral
change), kesehatan mental positif (positive mental health),
pemecahan masalah (problem solution), keefektifan pribadi (personal
effectiveness), dan pembuatan keputusan (decision making). Dengan demikian
seorang konselor perlu didukung oleh pribadi dan keterampilan yang dapat
menunjang keefektifan konseling.
Pada dasarnya antara konseling dan psikoterapi dalam hal tujuan
sama-sama ingin membantu agar klien dapat menemukan permasalahan untuk kemudian
dapat dipecahkan bersama-sama, namun semua itu hanya dapat terlaksana dengan
baik manakala klien dapat membuka diri dan mau diajak kerjasama.
Dan adapun perbedaannya lebih kepada pendekatan dan cara
penanganannya, dimana konselor sebagai mitra yang dapat memberikan masukkan dan
membantu untuk memunculkan suatu permasalahan yang dirasakan klien baik masalah
yang disadari maupun yang tidak disadari, sedangkan psikoterapis selain
menggunakan tehnik konseling ia juga menggunakan therapy yang sifatnya
lebih kepada perubahan pada prilaku yang sangat substanstib.
Referensi :
Corey, Gerald. (2007). Teori dan praktek konseling dan
psikoterapi. Bandung: Reflika Aditama.
Markam, dkk. (2003). Pengantar psikologi klinis. Jakarta:
Universitas Indonesia.
Andi, M. A. T. (2006). Pengantar konseling dan psikoterapi.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Luddin, A.B.M. (2010). Dasar-dasar konseling: Tinjauan teori dan
praktik. Bandung: Citapustaka Media Perintis.
Komentar
Posting Komentar